Breaking News

Sejarah Kolonialisme Jaman Hindia Belanda (part 10)

Jakarta – Kota yang mati itupun akhirnya telah hidup kembali, di tangan Raffles bengkulu mulai banyak menarik minat orang asing. Penduduk yang terdiri dari beberapa bangsa seperti Eropa, India, China, Melayu hingga Bugis pun ada di kota ini. Penduduk melayu datang dari daerah sekitarnya termasuk para nelayan, Sebagian bangsa eropa yang juga menjadi Pegawai Pemerintah di zaman itu.

Sebagian bekerja untuk menjadi Pegawai sipil hingga Militer, pada bulan april tahun 1818 Raffles mengadakan pertemuan dengan Kepala Adat untuk menghapuskan aturan pembudakan yang ada di wilayah jajahan Inggris. Semua budak mendapatkan masing masing sertifikat sebagai tanda bukti bahwa mereka telah bebas dan merdeka.

Raffles juga menghapus perbedaan antara masyarakat pribumi dan eropa. Tidak hanya itu Raffles juga membuka kediamaan nya sehingga masyarakat pribum dapat mengunjungi dalam segala kesempatan, akhirnya masyarakat pun menaruh harapan yang tinggi kepada Raffles. Inilah puncak tertinggi kepemimpinan Raffles yang mendapat kepercayaan dari masyarakat, tidak luput dari kebijakan yang dia beri untuk masyarakat.

Bunga Raflesia Arnoldy
credit : wikipedia

Pada suatu kesempatan, Raffles dan sang istri berkunjung ke wilayah Pulau Lebar tepatnya di Lubuk tapi. Raffles dan sang istri juga di dampingi dr.arnold ( pakar botani ), disinilah Raffles untuk pertama kali nya bertemu bunga yang sangat besar dan indah. Para warga sekitar menyebut ini sebagai Petimun Sikinlili atau Sirih Hantu.

Logo Kota Bengkulu

Lalu bunga ini pun di beri nama Rafflesia Arnoldy yang kita kenal sekarang identik sebagai simbol kota Bengkulu. Bunga ini masih dapat kita temui di Hutan Lindung Rejang Lebong dan kawasan Bengkulu Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *