Breaking News

Sejarah Kolonialisme Jaman Hindia Belanda (part 12)

Jakarta – Sultan Badaruddin II yang mulai kesal ketika Muntinghe meminta Putera Mahkota sebagai jaminan pun tidak hanya diam.

Sultan Badaruddin II semakin kesal ketika mendengar kabar bahwa ada Ulama yang di tembak mati oleh Belanda tanpa sebab. Sang sultan pun akhirnya merencanakan untuk memulai perang terhadap Belanda, setelah terjadi banyak pemicu yang saat itu merendahkan kesultanan Palembang. Akhirnya Perang Menteng pun terjadi.

Pada tanggal 12 Juni 1819 akhirnya belanda mengirim pasukan untuk menyerang Kesultanan Palembang yang terletak di Kuto Besak, 200 prajurit dikirim pada pertempuran ini. Pertempuran berlalu sampai esok hari, Kesultanan Palembang masih bertahan dengan kokoh hingga akhirnya Muntinghe kembali ke Batavia dengan mengalami kekalahan.

Komisaris Belanda tersebut yang tidak terima dengan kekalahan akhirnya meminta bantuan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 41 pada saat itu adalah Van Der Capellen. Akhirnya Belanda pun yang tidak terima dengan kekalahan itu kembali menyerang dengan kekuatan berlipat ganda, belanda mengirim 2000 pasukan.

Selain jumlah pasukan yang banyak, Belanda juga melengkapi nya dengan puluhan kapal tempur. Tujuan nya untuk meratakan kesultanan Palembang yang dipimpin oleh Sultan Badaruddin II tersebut, sementara disisi lain sang Sultan sudah mempersiapkan jika ada serangan balik dari Belanda. Salah satu yang di persiapkan sang Sultan adalah dengan membangun area pertahanan berupa Benteng dari Pulau Kembaro hingga Plaju.

Ilustrasi via Google Map

Sultan Badaruddin II juga meminta kepada para pasukannya untuk membuat sesuatu yang bisa menahan pergerakan rombongan kapal Belanda.

Terciptalah pancang kayu, guna dari pancang kayu tersebut ialah untuk menahan laju dari kapal-kapal Belanda yang hendak datang dan memasuki perairan palembang kala itu. Akhirnya pada 21 Oktober 1819 perang kedua pun pecah, tepat di Sungai Musi. Peperangan kedua ini kembali membuat Kesultanan Palembang sebagai pemenang, Belanda pun kalah.

Belanda yang kalah pada saat itu memilih kembali ke Batavia, Constantijn Johan Wolterbeek yang memimpin kala itu memutuskan untuk mundur.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *