Breaking News

Sejarah Kolonialisme Jaman Hindia Belanda (part 6)

Jakarta – Sultan Hamengkubwana II juga memerintahkan untuk membunuh Raden Ronggo. Perintah itu tidak terlepas atas janji Sultan Mangkubumi, ayahanda Hamengkubawana II. Sultan Mangkubumi pernah berjanji kepada Panglima perangnya yaitu Raden Wirosentiko bahwa tidak akan menyakiti ataupun menghukum mati keturunan Panglimanya tersebut.

Daendels pada tanggal 2 Desember 1810 mengirim pasukan ke semarang untuk meredam pemberontakan Raden Ronggo, Patih Danurejo II.

Sebelum menjadi Patih Danurejo II ia memiliki nama Tumenggung Mertonegoro. Ia juga merupakan cucu dari Hamengkubuwana I, adalah Raden Ayu Danukusumo yang juga merupakan salah satu putri dari Hamengkubuwana I. Beliau juga merupakan cucu dari Patih Danurejo I / Tumenggung Yudhonegoro III yang menjabat sebagai patih pada era Hamengkubuwana I.

Patih Danurejo II menyusun siasat untuk menjatuhkan Raden Ronggo, lalu pada tanggal 7 Desember Pangeran Dipokusuma yang juga merupakan saudara dari Pangeran Diponegoro diutus menjadi Panglima Perang. Di hari itu juga, mereka berhasil menguasai Istana Maospati tanpa perlawanan.

Tetapi Raden Ronggo berhasil memindahkan pasukan nya yang tersisa 100 orang ke Wonosari. Pada tanggal 15 desember Raden Ronggo menemui Kapiten Tionghoa di lasem dan rembang untuk meminta dukungan dalam melawan Belanda. Tetapi dukungan tersebut tidak pernah di peroleh, Akhirnya di tanggal 17 Desember terjadi pertemuan akhir di Kertosono.

Bertemu di tepi Bengawan Solo para bupati tidak ada yang berani melawan Raden Ronggo, Hanya Pangeran Dipokusumo lah yang saat itu berani. Namun Raden Ronggo mengalami pergejolakan Batin, orang yang ia hadapi adalah keturunan sultan Yogyakarta.

Pada saat pertemuan tersebut, beliau sempat di tanya tentang apa dan maksud dari tujuannya itu. Raden Ronggo menjawab bahwa ia tidak bermaksud menyusahkan orang Jawa, melainkan ia bermaksud untuk menghabisi siapapun yang menyulitkan orang jawa dan Tionghoa pada saat itu.

Pada saat itu Raden Ronggo memilih untuk ditusuk menggunakan tombaknya oleh Pangeran Dipokusumo.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *